Program Studi Akuntansi Syariah Institut SEBI menyelenggarakan Kuliah Tamu Semester Ganjil Tahun Akademik 2025/2026 dengan tema “Akuntansi Biaya 2.0: Mengelola Kompleksitas Biaya Produksi di Era Artificial Intelligence (AI)”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 24 Desember 2025 pukul 14.00–16.30 WIB, bertempat di Laboratorium Komputer sebagai bagian dari mata kuliah Akuntansi Biaya + Lab.
Kuliah tamu ini menghadirkan Untung Kasirin, seorang Finance Strategist, Book Author, dan Tech Enthusiast, dengan dosen pengampu M. Faisal Tandjung, S.E., MBA. Kegiatan ini bertujuan untuk memperluas wawasan mahasiswa mengenai peran strategis akuntansi biaya dalam pengambilan keputusan bisnis modern, khususnya di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan.
Dalam pemaparannya, narasumber menekankan bahwa realita bisnis tidak selalu seindah laporan keuangan. Laporan laba rugi dapat terlihat “cantik”, namun perusahaan tetap berisiko mengalami kebangkrutan apabila arus kas macet dan biaya tidak terkendali. Hal ini menunjukkan pentingnya pergeseran fokus akuntansi dari sekadar pelaporan historis menuju alat strategis pengambilan keputusan.
Narasumber menjelaskan perbedaan fokus dalam praktik akuntansi, yaitu: 1. Akuntansi Keuangan yang berorientasi pada pelaporan masa lalu, 2. Akuntansi Biaya sebagai dasar pengambilan keputusan saat ini, dan 3. Akuntansi Manajemen yang berperan dalam perencanaan strategi masa depan.
Kuliah tamu ini juga mengulas berbagai kesalahan fatal yang kerap terjadi pada UMKM dan perusahaan menengah, seperti ketidaktahuan terhadap biaya per unit produk (HPP), penetapan harga yang hanya mengikuti pasar atau pesaing, serta kondisi margin laba yang terlihat besar di atas kertas namun tidak tercermin dalam kas perusahaan.
Lebih lanjut, mahasiswa diajak memahami bahwa klasifikasi biaya merupakan alat analisis penting dalam pengambilan keputusan. Biaya diklasifikasikan berdasarkan: 1. Perilaku biaya (tetap, variabel, dan semi-variabel), 2. Fungsi biaya (produksi, pemasaran, dan administrasi), 3. Relevansi keputusan, yang meliputi biaya relevan, biaya tidak relevan, dan sunk cost (biaya masa lalu yang sering kali menjebak pengambilan keputusan bisnis).
Dalam aspek sistem penentuan biaya, dipaparkan berbagai metode seperti Job Order Costing untuk pesanan khusus, Process Costing untuk produksi massal, serta Activity-Based Costing (ABC) yang lebih kompleks namun memberikan tingkat akurasi tinggi dengan fokus pada aktivitas pemicu biaya.
Narasumber juga menekankan bahwa dunia nyata tidak sesederhana teori, di mana satu proses produksi dapat menghasilkan lebih dari satu produk. Contohnya, dalam industri kelapa sawit yang menghasilkan minyak sawit mentah (CPO), inti sawit, serta cangkang atau ampas sebagai produk sampingan, sehingga menuntut pendekatan akuntansi biaya yang lebih adaptif.
Dibahas pula perbedaan antara produk gabungan (joint products) dan produk sampingan (by products). Produk gabungan memiliki nilai ekonomis signifikan dan merupakan tujuan utama produksi, seperti berbagai potongan daging sapi (sirloin, tenderloin, iga). Sebaliknya, produk sampingan memiliki nilai ekonomis relatif kecil dan bukan tujuan utama produksi, seperti serbuk gergaji atau kulit ari kedelai. Namun demikian, produk sampingan tidak serta merta harus dibuang. Dari sudut pandang akuntansi, produk sampingan dapat diperlakukan sebagai: Pengurang Harga Pokok Produksi (cost reduction) sehingga margin terlihat lebih baik, atau pendapatan lain-lain (other income).
Selain itu, dibahas pula berbagai kelemahan akuntansi biaya tradisional, seperti keterlambatan data, sifat yang reaktif, serta alokasi biaya overhead yang sering kali berbasis asumsi dan kurang akurat. Sebagai solusi, kuliah tamu ini menyoroti peran Artificial Intelligence dalam akuntansi biaya modern, antara lain melalui: Otomatisasi klasifikasi biaya dengan membaca dan mengelompokkan ribuan transaksi secara real-time, serta Identifikasi cost driver secara lebih akurat, sehingga membantu manajemen menemukan penyebab pembengkakan biaya yang sulit terdeteksi secara manual.
Melalui kuliah tamu ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami bahwa akuntansi biaya bukan sekadar alat pencatatan, melainkan instrumen strategis yang berperan penting dalam menjaga keberlanjutan bisnis di era digital dan kecerdasan buatan.
