Depok, Senin, 31 Agustus 2026 - Gubernur Sumatera Barat H. Mahyeldi Ansharullah menekankan pentingnya peran kepemimpinan daerah dalam mengoptimalkan potensi wilayah melalui pembangunan yang berorientasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Hal tersebut disampaikan dalam keynote speech pada Kuliah Umum bertema “Kepemimpinan Nasional sebagai Kunci Pembinaan SDM Unggul Bangsa” yang berlangsung di Gedung SEBI Hall, Institut SEBI, Depok, Senin (31/8).
Dalam pemaparannya, H. Mahyeldi menjelaskan bahwa pembangunan tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur. Infrastruktur berperan dalam membangun konektivitas dan membuka kapasitas ekonomi, sedangkan teknologi dapat mempercepat produktivitas dan inovasi. Namun, kualitas manusia tetap menjadi faktor penting dalam menentukan keberlanjutan pembangunan suatu daerah.
Menurutnya, potensi wilayah tidak akan berkembang secara optimal apabila tidak diiringi dengan peningkatan kualitas masyarakat dan kepemimpinan yang mampu memahami kondisi daerah secara nyata. Hal ini semakin penting di tengah bonus demografi dan perubahan teknologi yang turut mengubah kebutuhan dunia kerja.
Ia menegaskan bahwa pemimpin perlu memahami potensi dan persoalan wilayah berdasarkan kondisi yang ada di lapangan. Prinsip tersebut sejalan dengan filosofi Minangkabau “Alam Takambang Jadi Guru”, yang mengajarkan pentingnya mengamati kenyataan, memahami sebab-akibat, mengambil pelajaran, menguji solusi, serta memperbaiki kebijakan berdasarkan hasil yang ditemukan.
“Pemimpin harus bekerja dari data, bukan dari asumsi,” tegasnya.
Dalam konteks pembangunan Sumatera Barat, H. Mahyeldi menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat pada Triwulan II 2026 mencapai 4,54 persen secara year-on-year (y-on-y), sedangkan pertumbuhan semester I 2026 mencapai 4,51 persen secara c-to-c. Meski demikian, pembangunan masih menghadapi tantangan, termasuk persoalan kemiskinan dan kesenjangan antara wilayah perkotaan dan perdesaan.
Karena itu, optimalisasi potensi daerah membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah daerah, desa atau nagari, perguruan tinggi, dunia usaha, masyarakat, serta unsur sosial lainnya perlu mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing. Dalam masyarakat Minangkabau, kolaborasi tersebut tercermin melalui peran ninik mamak, alim ulama, dan cadiak pandai yang saling melengkapi dalam membangun masyarakat.
Lebih lanjut, H. Mahyeldi menempatkan pemimpin sebagai pengganda kualitas manusia. Pemimpin tidak hanya dituntut mengelola pemerintahan, tetapi juga menemukan potensi, membentuk karakter, meningkatkan kompetensi, menumbuhkan kemampuan berkarya, dan memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengambil tanggung jawab.
Pembinaan SDM juga perlu dilakukan secara bersama-sama melalui keluarga, masjid dan surau, sekolah dan kampus, desa atau nagari, dunia usaha, hingga pemerintah. Dengan kolaborasi tersebut, potensi masyarakat dapat berkembang menjadi kekuatan bagi pembangunan daerah.
Melalui kepemimpinan yang mampu membaca kondisi wilayah, mengoptimalkan potensi lokal, serta membangun kolaborasi, pembangunan diharapkan tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menciptakan masyarakat yang kompeten, produktif, dan mampu berkontribusi bagi kemajuan daerah dan bangsa.
