berita

STIE SEBI Ajari Nelayan Pulau Buluh Keuangan Syariah

Kategori Berita : '2015-10-25' / '19:00:34' WIB
'

Bisnis.com, BATAM – Direktorat Pendidikan Tinggi Islam (Diktis) Kementerian Agama (Kemenag) bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) SEBI memberikan pelatihan keuangan syariah kepada kelompok nelayan Pulau Buluh, Batam, Kepulauan Riau.

“Nelayan kecil sengaja kami pilih karena tiga hal,” ungkap Ketua Tim STEI SEBI Hendro Wibowo melalui keterangan persnya, Minggu (25/10/2015).

Ketiga alasan itu, pertama, sejalan dengan program pemerintah yang saat ini fokus ke sektor maritim. Kedua, mereka termasuk kelompok yang relatif paling sulit mendapat akses keuangan. Ketiga, sebagai bentuk dukungan kami terhadap program Sahabat Keuangan Maritim yang digagas OJK

Melalui pelatihan edukasi keuangan ini, para nelayan diharapkan memiliki pemahaman keuangan dan kemampuan mengelola keuangan yang lebih baik, dan pada akhirnya memudahkan mereka memperoleh akses keuangan ke lembaga-lembaga keuangan, khususnya lembaga keuangan syariah.

Pelatihan yang berlangsung 5 hari ini diikuti oleh 20 nelayan yang tergabung dalam Kelompok Nelayan Abadi Pulau Buluh (KNAPB). Para peserta begitu sangat antusias mengikuti setiap sesi pelatihan yang sengaja dirancang interaktif dan tidak formal.

"Tidak heran mereka berharap pelatihan keuangan ini bisa dilakukan secara berkala," kata Hendro, yang juga Wakil Sekjen Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) itu.

“Kami berharap program pelatihan keuangan kepada nelayan ini tidak hanya sekali, tetapi kalau bisa dilakukan secara berkala, misalnya tiga atau enam bulan sekali,” kata Pembina KNAPB Warya Burhanuddin.

Pria yang juga Ketua LAZ Dompet Sosial Ulil Albab (DSUA) Batam ini mengungkapkan ada 15 kelompok nelayan  di Pulau Buluh. Masing-masing kelompok memiliki sekitar 40 anggota. Oleh karena itu, ia berharap setiap kelompok tersebut juga bisa mendapat pelatihan keuangan.

Sementara itu, ahli pemberdayaan masyarakat STEI SEBI, Efri Syamsul Bahri, menilai persoalan keuangan nelayan kecil tidak bisa diatasi hanya dengan pelatihan, tetapi juga harus dibarengi dengan pendampingan.

“Pelatihan memberi nelayan pengetahuan keuangan, tetapi jika pengetahuan tersebut tidak digunakan maka akan sia-sia. Melalui pendampingan yang intensif, nelayan akan dibiasakan untuk mempraktikkan langsung pengetahuan keuangannya,” jelas Penulis Buku Pemberdayaan Masyarakat ini.

Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad (20/10) mengungkapkan OJK akan meluncurkan program Sahabat Keuangan Maritim (SKM). Tugas SKM adalah memberi penyuluhan dan pendampingan kepada para nelayan kecil dalam memanfaatkan sektor keuangan.

“Sahabat Keuangan Maritim akan menolong nelayan bagaimana memanfaatkan jasa keuangan, mengajukan pembiayaan, hingga membantu menyiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan,” kata Mulyaman.

Muliaman mengungkapkan, selama ini nelayan kecil banyak yang belum memiliki kemampuan dalam memanfaatkan produk keuangan maupun memitigasi keuangan. Oleh karena itu, melalui SKM ini, OJK berharap akses keuangan nelayan kecil industri terhadap layanan jasa keuangan baik yang konvensional maupun syariah akan terbuka lebar.

Untuk tahap awal, OJK telah merekrut 300 orang yang akan menjadi ujung tombak Program SKM. OJK menargetkan tenaga penyuluh Sahabat Keuangan Maritim bisa mencapai 10 ribu orang pada sampai akhir tahun 2016. Adapaun syarat untuk menjadi tenaga SKM minimal lulusan D3 dan lulus pelatihan yang diadakan OJK.

Sumber: http://industri.bisnis.com/read/20151025/87/485721/stie-sebi-ajari-nelayan-pulau-buluh-keuangan-syariah

Baca Juga Berita Lainnya